Cattegory

Senin, 24 November 2008

Anak jalanan

ANAK JALANAN SEBAGAI POTRET BURAM KEHIDUPAN KOTA BESAR
Kala siang menjelang petang, panas sinar matahari yang memancar ke perempatan Condong Catur tidak terasa bagi para anak jalanan yang meminta-minta diantara kemdaraan yang satu dengan kendaraan yang lain. Anak-anak yang hidup di jalanan atau yang melakukan kegiatan di jalanan, sangat rentan dengan perlakuan kekerasan. Sudah menjadi hukum di jalanan, siapa yang kuat merekalah yang menang. Masa anak-anak yang mestinya dihiasi dengan keceriaan dan kemanjaan, terpaksa harus berjuang sendirian mempertahankan hidup. Fisik dan jiwa yang masih rentan, secara terpaksa harus berhadapan dengan dunia yang keras dan kejam, yaitu dunia jalanan.
Anak jalanan merupakan satu konstituen dari komunitas yang berada di jalanan. Dalam hidup kesehariannya, anak-anak di jalanan melakukan interaksi dengan berbagai elemen sosial yang ada di jalanan, baik sesama anak maupun orang dewasa dengan berbagai latar belakang dan profesi. Anak jalanan adalah anak-anak yang mencari nafkah di jalanan. Umumnya sebagai pedagang asongan, pengamen, gelandangan dan pengemis, penjual koran, tukang semir, pemulung, tukang parkir, tukang sapu angkot, penjaja alas kaki, tukang cari nasi busuk, tukang angkat barang, maupun pekerja seks anak. Ada yang masih tinggal dengan keluarga, maupun yang bertempat tinggal di jalanan.

Selain itu ada juga anak yang tidak mencari nafkah, tetapi anak-anak tersebut ada atau berada di jalanan. Misalnya ada anak yang berumur 5 bulan hingga usia 1 tahun yang dibawa ibunya mengemis. Mereka dimanfaatkan untuk menambah rasa “kasihan” orang, sehingga mendapat penghasilan yang lebih banyak.
Kasus lain adalah anak yang kebanyakan berumur 3 s/d 5 tahun yang memang ditinggalkan di jalanan. Anak ini tidak melakukan pencarian nafkah, tetapi hidupnya tergantung kepada orang lain. Baik kepada sesama anak di jalanan, atau orang dewasa yang merasa kasihan, atau menyambung hidup dari mengais sisa-sisa makanan di tong sampah. Ada juga orang tua yang kerja di jalanan dengan membawa anak. Sementara orang tua mencari nafkah sang anak hanya bermain, tidur atau duduk-duduk saja menunggu para orang tua mereka.
Interaksi yang terjadi di jalanan, baik antara anak dengan anak, dan anak dengan orang dewasa, antara lain berbentuk perkawanan, jual beli, penipuan, pelayanan jasa antar, kerjasama, memperbudak, pembantu untuk melakukan sesuatu, alat pemuas nafsu, atau lainnya.

2 komentar:

Agepe (MediaPembelajaran SastraIndonesia) mengatakan...

Posting yang menarik. Numpang baca ya... Tabik.

bektiyustiarti mengatakan...

Terima kasih sudah membaca tulisan saya.